Murtadin naas warga desa Mayong Kidul,
Mayong Jepara Jateng ini dieksekusi setelah melakukan penodaan agama
terhadap mujahidin dengan melecehkan Al-Qur'an, Allah SWT, Nabi Muhammad
dan Syariat Islam. Sedangkan trio mujahid Jepara yang mengeksekusi
murtadin calon pendeta itu adalah Ustadz Amir Mahmud (29), Sony
Sudarsono (29), dan Agus Suprapto (31).
Ustadz Amir Mahmud adalah alumnus
pesantren tauhid terbesar di kotanya yang sudah malang-melintang di
dunia jihad. Usai menamatkan pendidikan di pesantren tahun 2000, ayah
seorang anak ini ditugaskan dakwah di Lombok, NTB. Tahun 2001, ketika
bumi Ambon bergolak, ia terpanggil untuk berjihad selama 4,5 tahun
membela kaum muslimin yang tertindas.
Sony Sudarsono adalah mujahid yang sudah
malang-melintang berjihad hingga mancanegara. Ayah dua orang anak ini
pernah mengikuti pelatihan jihad di Moro Pilipina. Sedangkan Agus
Suprapto, warga Semper Barat, Cililing, Jakarta Utara, adalah mujahid
yang pernah bergabung bersama kafilah i’dad di Aceh bersama Abu Umar.
Ayah empat orang anak ini sempat menjadi buronan Densus 88 Antiteror
karena jihadnya.
Eksekusi terhadap murtadin calon pendeta
ini bermula pada bulan Oktober 2012, saat Ustadz Amir menerima
pengaduan dari berbagai aktivis di Kudus, mengenai sepak terjang
penginjil Omega Suparno setelah murtad meninggalkan Islam. Setelah
murtad, jebolan pesantren Kudus yang sempat kuliah di IAIN Yogyakarta
ini pindah kuliah ke Sekolah Tinggi Theologia Baptis Indonesia (STBI)
Semarang untuk mengejar obsesi menjadi pendeta.
Setelah data, alamat dan identitas
Suparno terkumpul, Ustadz Amir berkunjung ke rumah Suparno dengan misi
untuk berdialog dan mengkonfirmasi latar belakang kemurtadannya, pada
Selasa sore (11/12/2012).
Mulanya, dialog berjalan biasa saja
seputar perkenalan. “Njenengan leres Mas Suparno, lulusan Ma’ahid yang
pindah agama?” tanya Amir. (Apakah benar anda bernama Suparno, alumnus
Ma’ahid yang sudah pindah agama?). “Inggih, leres,” jawab Suparno
singkat. (Iya, benar).
Namun agenda dialog yang direncanakan tak semulus rencana awal. Dikonfirmasi baik-baik, Suparno malah ngelunjak. Dengan
provokatif, ia memaparkan bahwa imannya dalam Kristen sudah mantap dan
tidak bisa diganggu gugat lagi. Bahwa semua manusia hanya bisa selamat
di surga bila mengimani Yesus sebagai tuhan dan juruselamat. Dosa
manusia hanya bisa dibersihkan dengan tebusan kematian Yesus di ting
salib, dan keselamatannya sudah dijamin 100 persen oleh Yesus.
Untuk mempertegas kesaksiannya, Supar
–sapaan akrabnya– mengumbar pernyataan yang mendiskreditkan Al-Qur'an.
“Al-Qur'an itu tidak ada yang benar, salah semua. Kalau di sini ada
Al-Qur'an, saya injak-injak saja,” ejeknya sambil memeragakan kaki
menginjak-injak lantai rumahnya.
Tak
puas menghina Al-Qur'an, Supar melanjutkan sasaran hujatannya kepada
Allah SWT. “Allah itu sebenarnya kan tidak ada, Allah itu baru diadakan
setelah adanya bangsa Arab,” ujar Amir menirukan Suparno.
Ketika topik pembicaraan beralih kepada
kenabian Muhammad SAW, Supar menyebut Muhammad bukan seorang nabi,
karena kualitasnya hanya selevel dengan Kiyai Jawa. “Nabi Muhammad itu
tidak boleh dikultuskan, karena kenabiannya setara dengan gelar kiyai di
Jawa,” tegasnya.
Tak ada titik temu, dialog diakhiri
ketika azan magrib berkumandang. Sebelum berpisah, keduanya berjanji
untuk melanjutkan dialog lagi esok harinya.
Dialog juga tak berjalan imbang, karena
Supar sebagai tuan rumah mencecar Amir dengan pemaparan seperti orang
pidato. “Saya gak banyak kesempatan bicara, karena Supar bicaranya gak
berhenti-berhenti,” papar Amir kepada voa-islam.com sebelum Sidang di PN
Jepara, Kamis (20/6/2013).
Muwati (40) adik kandung Suparno,
membenarkan adanya pertemuan dialog Suparno dengan Ustadz Amir Mahmud
sehari sebelum insiden eksekusi. “Nggih, rumiyen wonten tamu kalih,
sanjange rencange teng Ma’ahid, tapi adik kelasipun,” ujarnya kepada
voa-islam.com, Kamis (20/6/2013). (Iya, dulu ada dua orang tamu, katanya
adik kelas Suparno di Ma’ahid).
Tapi ia hanya mendengar sekilas dan tidak mengikuti percakapan sampai akhir karena ada urusan lain. “Nopo sing dipermasalahke kulo boten semerap,” jelasnya. (Apa yang dibicarakan mereka saya tidak tahu).
...Mereka adalah orang yang berani mengambil alih beban amanah yang seharusnya dipikul oleh negara, menyelamatkan Syariat agar tidak menjadikannya berdosa...
Esoknya, Rabu malam (12/12/2012) Ustadz
Amir bersama Sony dan Agus mengeksekusi murtadin Suparno di belakang
Ruko Jember Kudus. Setelah tewas, mayat Suparno dibuang ke hutan jati
di Jepara.
Selanjutnya mayat Suparno di area petak
106 hutan jati desa Jinggotan, kecamatan Kembang, kabupaten Jepara pada
Kamis (13/12/2012).
Polisi baru bisa mengungkap identitas
korban sepekan kemudian, pada Rabu (19/12/2012). Setelah pengambilan
sampel tes DNA dan dibawa pulang, jenazah Suparno dibawa ke Gereja
Injili Tanah Jawa (GITJ) Jepara dan langsung dimakamkan malam itu juga
di makam Kristen setempat.
Akhirnya Ustadz Amir, Sony dan Agus dibekuk tim khusus Polda Jateng, Jumat (28/12) di Sragen dan Kudus.
Sumber : voa-islam.com...Saya ingin menyampaikan pesan kepada para murtadin. Jangan sekali-sekali melecehkan Islam. Kalau Islam dihina, nyawa mujahid siap dipertaruhkan...

No comments:
Post a Comment